Mengenai Saya

Foto saya
jika saya menilai diri saya sendiri maka sudut subjektif akan selalu menemani dengan setia maka alangkah lebih baiknya pembaca blog saya yang menilai tentang saya.

Jumat, 18 Mei 2012

“Let the dead be dead”


Pesawat Shukoi
Akhir-akhir ini kita disibukkan dengan media yang membahas tentang pesawat na`as bernama Sukhoy, kapal besar ini adalah kapal komersil buatan Rusia yang menabarak sebuah tebing maupun gunung di daerah Bogor yakni gunung Salak. Banyak para pengamat menganalisis kenapa pesawat buatan Rusia tersebut menabrak gunung?? Ada yang menduga karena human eror (karena pilot meminta turun dari ketinggian sekian meter) ada pula yang menebak karena pesawat Shukoi tersebut bermasalah seperti 10 orang Profesor pembuat Shukoi ijazahnya palsu dan pembohongan beban pesawat yang lebih berat dari kenyataan serta teori Konspirasi yang menginginkan pabrik Sukhoi di Rusia kalah tender dengan pesawat lain. Apapun itu saya cuma bisa mengutip kata-kata Soe Hok Gie : let the dead be dead. Pada faktanya semua penumpang telah tiada, pada faktanya pesawat telah hancur, dan pada faktanya ini adalah tragedi (sekali lagi) untuk kemanusian. Biarkan mereka beristirahat dengan tenang, apapun alasannya penemuan Black Box tidak merubah situasi. Pendapat sinis saya, biarkan kasus ini ditutup agar tidak menimbulkan luka yang lebih dalam kepada mereka yang bersangkutan dengan keluarga. “Let the dead be dead”   

Sabtu, 05 Mei 2012

Hukum Gossen dalam kehidupan

Seperti udara yang kita hirup, seperti jantung yang memompa darah ataupun hujan yang menyejukkan. Semua itu adalah hal yang sewajarnya memberikan manfaat bagi kita. Namun jika kita melakukan hal yang sama seperti itu secara terus menerus, ada kemungkinan kita untuk sombong. Bernapas, suatu hal yang wajar dengan memaksimalkan kedua lubang hidung, namun apa jadinya ketika kita terkena pilek?? Satu lubang yang berfungsi seperti kurang maksimal udara yang masuk. Kadang kita baru merasa berharga jika sesuatu hal menghilang dalam hidup kita. 
mencari tantangan ciri "anak muda"

Banyak hal yang mampu membuat hidup kita indah, seperti tantangan yang mengitari hidup kita, tapi terkadang kita merasa jumawa bahwa tantangan tersebut “terlalu muda”. Sebagai generasi muda saya sangat senang tantangan. Jiwa-jiwa petualang dalam darah ini seperti respon terhadap keadaan sekarang. Namun apa jadinya jika tantangan tersebut berhasil dikuasai?? Saya teringat teori hukum ekonomi “Hukum Gossen 1” tentang kepuasan
“Jika pemenuhan kebutuhan akan satu jenis barang dilakukan secara terus-menerus, utilitas yang dinikmati konsumen akan semakin tinggi, tetapi setiap tambahan konsumsi satu unit barang akan memberikan tambahan utilitas yang semakin kecil.”  
Sebuah rasa kepuasan akan berubah kadarnya atau memudar. Itulah yang kadang manusia alami, rasa jenuh mengalami rutinitas yang berulang dan berulang. Bekerja ditempat yang sama dan berulang kembali hari esok kemudian. Manusia yang mengikuti main stream tapi kehilangan jati diri karena mengekor pada kebutuhan matrealisme. Sesungguhnya saya juga termasuk didalam sistem tersebut, selalu ada keinginan untuk berontak dan saya yakin Tuhan saya masih membela saya dalam dunia ide.

Jumat, 20 April 2012

Guru sebagai simbol stagnasi


Saya akhir-akhir ini berfikir, mengapa ada ketertakutan menyampaikan materi terlampau dalam kepada anak-anak SD kelas lima akan membuat mereka pusing?? Hal ini dikarenakan ketika saya hendak mengajar ada seorang rekan guru yang menyampaikan agar materi yang diberikan tidak terlalu mendalam! Jelas hal ini membuat saya bingung. Saya adalah orang yang suka mengeksplore suatu materi, entah itu dari bacaan buku, internet maupun media yang lain. Jika, saya memberikan suatu materi yang dalam kepada anak SD yang notabenenya baru kelas lima saya dianggap salah dimata “mereka”.
Materi yang saya ajarkan adalah ILMU PENGETAHUAN SOSIAL. Pelajaran yang satu ini adalah pelajaran yang “cukup” membosankan. Saya tidak memungkiri banyak faktor yang mengakibatkan para pelajar memberikan julukan seperti itu, entah karena banyak teori, banyak fakta yang harus dimengerti, lalu tanggal-tanggal yang wajib di hapal serta nama orang yang tidak kita kenal menjadi bumbu dalam pelajaran ini. Saya adalah mantan mahasiswa jurusan sejarah, dan dikelas lima banyak materi sejarah yang bercerita tentang sejarah Indonesia dari zaman kerajaan sampai paska kemerdekaan.
Awalnya saya mengajar dengan beracuan kepada buku “paket” sekolah ditambah dari sumber referensi yang lain, saya memberikan materi dengan semangat, namun ada kritikan kepada saya jika anak SD tidak perlu diberikan materi terlalu banyak soal IPS,apalagi tentang soal yang berbau analisis. Saya bingung?! Memang sebegitu bodohnya anak SD kelas lima untuk diberikan pengetahuan secara setengah-setengah, tentu batasan untuk anak SD saya juga paham, bahwa soal analisis hanya untuk satu atau maksimal untuk dua langkah.
Sebagai (eks) mahasiswa sejarah, sudut pandang saya adalah sejarah sentris, lihat peran ekstrem para golongan muda untuk mengamankan Soekarno dan Hatta, kemudian bagaimana Amir Sjarifudin menolak bekerja sama dengan pihak Jepang ketika dia menjadi mahasiswa, lalu bagaimana mudanya para pemimpin Indonesia dalam kancah perpolitikan internasional seperti Tan Malaka, Sutan Sjahrir, Semaoen dan D.N Aidit. Mereka adalah golongan muda! Lalu apa salah saya memberikan harapan perubahan kepada bibit-bibit terbaik bangsa ini??
mikir pak..
Sudah saatnya kita bersikap tegas untuk melawan pembodohan secara halus ini, dunia kita penuh dengan kapitalisme, pengambilan jati diri secara diam-diam. Mereka dengan pintar mengeksploitasi secara halus semua kegiatan kita, sampai di sektor pendidikan! rata-rata (berarti tidak semua) guru-guru menganggap “kurang pintar dan pengalaman” baca:Bodoh para siswanya kita jangan lupa, sekarang zaman telah berubah, para siswa dapat mengakses informasi dari mana saja. Internet sudah menjadi media yang populer. Jika terus bermuslihat dan tetap berdiam diri, maka peran guru tidak lebih dari sebuah simbol stagnasi, bukankah proses belajar berarti “dari tidak tahu menjadi tahu??”.